Singa Bansa| Raja Ulu Aik ke-51

Singa Bansa Raja Ulu Aik ke-51
Singa Bansa| Raja Ulu Aik ke-51

Raja. Di era millennium zaman now. Masih eksiskah? Barangkali hanya di Inggris. Atau di beberapa benua biru dan Timur Tengah kerajaan itu masih ada. 

Namun, khususnya di Nusantara, era itu telah berlalu. Seiring kemerdekaan Republik Indonesia maka kerajaan-kerajaan di Nusantara telah pun lebur. Bahkan tunduk di bawah bentuk pemerintahan baru itu.


Itu suatu keniscayaan sejarah. Tidak perlu untuk disesali. Toh demikian, bukan berarti era masa lalu itu pupus sama sekali. Kerajaan Hulu Aik misalnya, hingga kini masih eksis. Bahkan bunyinya makin nyaring terdengar.


Siapa yang memperdengarkannya? Gong dari dalam sendiri. 


Seperti diketahui bahwa Kerajaan Hulu Aik terletak di Kalimantan, Kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat. Kerajaan Hulu Aik berdiri sekitar tahun 1700-an.


Menurut penuturan para saksi dan tokoh yang mengetahui sejarah, Kerajaan Ulu Aik adalah kerajaan Tanjungpura kuno, berdiri sekitar tahun 800 M oleh Maniaka (dikenal sejarah Indonesia dengan nama Sang Maniaka), berpusat di Pancur Sambore dan Tanjung Porikng, hulu Sungai Krio, Ketapang, Kalimantan Barat (sekarang Desa Benua Krio Kec. Hulu Sungai, Kab.Ketapang). 


Dikisahkan bahwa salah seorang anak Maniaka bernama Siak Bahulun, bergelar Todong Rusi. Ia seorang Dayak yang bengis dan kejam pada musuh-musuhnya. Wilayah kerajaannya sebagaimana tercatat sejarah Indonesia Jawa (Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca) meliputi daerah yang dikenal dengan Labai Lawai, atau Laman Sembilan Domong Sepuluh (sekarang meliputi Pantai-Darat Kapuas, hulu Kapuas, hulu Landak, Sanggau, Jelai-Kendawangan, Pesaguan, Kayong-Gerunggang, Jokak-Laur, Bihak-Krio, Kalteng).

 

Pada abad ke-17, masuknya pengaruh Islam di kawasan pesisir Kalimantan pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit, membuat para bangsawan kerajaan terpecah. Sebagian memutuskan pindah ke muara sungai Pawan yang dipimpin Giri Kusuma, dan sebagian tetap bertahan di hulu sungai Krio yang dipimpin Ukir. Di muara sungai Pawan, Giri Kusuma mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Matan Tanjungpura.


Sementara Ukir tetap bertahan di hulu sungai Krio dan mengelola istana Ulu Aik. Ia kemudian menjadi raja bergelar Patih Empu Geremeng.

Dari penelusuran dan saksi-sejarah, diketahui  raja-raja Ulu Aik pasca Patih Empu Geremeng: 


1.  Patih Bihuk Tiung, Raja Ulu Aik I, 

2.  Patih Bansa Pati, Raja Ulu Aik II, 

3.  Patih Ira Bansa, Raja Ulu Aik III,

4.  Patih Jambu, Raja Ulu Aik IV, 

5.  Patih Bebek, Raja Ulu Aik V, 

6.  Patih Singa Bansa, Raja Ulu Aik VI (sampai sekarang ini, pusat kerajaan/istana/keratonterletak di Kampung Sengkuang, Desa Benua Krio, Kec. Hulu Sungai, Kab. Ketapang).

 

Patih Singa Bansa, Raja Ulu Aik VI ini memiliki istri bernama Anastasia Bijan. Keduanya dikaruniao seorang anak lelakinya bernama Edi Kurniawan. Keluarga ini hidup rukun, aman, dan damai dalam kebersamaan dengan masyarakat setempat dan di luar wilayah kerajaan. 


Peninggalan pusaka warisan masa lalu pun masih banyak bisa bercerita. Di istana kerajaan, tersimpan benda-benda pusaka milik kerajaan seperti Keris Bosi Koling Tungkat Rakyat, sebilah keris dari besi kuning yang panjangnya 20 Cm. 


Keris ini diyakini sebagai keris yang dipakai dan dititipkan Mahapatih Gajah Mada, dari Kerajaan Majapahit itu kepada Kerajaan Ulu Aik. Cukup banyak benda-benda pusaka lainnya di istana ini, yang dimandikan raja dan keluarganya melalui Upacara Meruba yang diadakan tanggal 25 Juni pada setiap tahun. 

LihatTutupKomentar
Cancel